Kesehatan

Kini Gagal Ginjal Kronik Dimudahkan Melalui Pengobatan Melalui CAPD di Rumah

329views

SUMEDANG, BANDUNGPOS.ID – Gifar (bukan nama sebenarnya, red) tak menyadari, kebiasaan minum suplemen energi dan kemalasannya minum air putih menyebabkan ia divonis mengidap gagal ginjal kronik.  Sejak tiga tahun lalu, Gifar bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan rutinitas cuci darah. Untungnya saat ini kegiatan cuci darah sudah bisa dilakukan di rumah.

“Dengan melakukan protokol kesehatan yang ketat, seperti selalu memakai masker dan cuci tangan dengan alkohol atau hand sanitizer, cuci darah melalui CAPD  cukup nyaman dan aman,” kata dr Andry Mulya S.pd, dokter penanggung jawab seluruh pasien gagal ginjal di RSUD Sumedang.

CAPD adalah salah satu cara pengobatan gagal ginjal kronik. Selain hemodialisis (cuci darah menggunakan mesin), CAPD notabene masih baru dan belum banyak orang tahu.

“Bahkan perawat dan dokter pun banyak yang tidak tahu,” ujar dr Andry.

Hemodialisis atau cara pengobatan konvensional yang sudah lama dikenal masyarakat, selain menyiksa dan membuang waktu juga membuat fungsi jantung semakin menurun.

“Secara kasat mata, betul, mesin yang menyedot darah. Kemudian darah yang sudah bersih dimasukkan kembali ke dalam tubuh tetapi sebenarnya jantung si pasien yang bekerja ekstra keras,” demikian dr Andry.

Dengan CAPD (continuous ambulatory peritoneal dialysis) atau peritoneal dialisis mandiri berkesinambungan, pasien GGK (gagal ginjal kronik) tidak perlu seminggu dua kali ke rumah sakit untuk terapi cuci darah. CAPD bisa dilakukan di rumah. Tentu saja kondisi rumah harus bersih, lingkungan yang mendukung. Juga perhatian dari seluruh anggota keluarga.

“Pasien ggk hanya perlu ke rumah sakit sebulan sekali untuk peresepan cairan CAPD,” kata Inne, perawat senior pasien GGK.

“Setelah peresepan, tunggu satu atau dua hari, cairan CAPD dikirim langsung ke rumah pasien,” tambah Inne.

Walaupun hidup tidak senormal manusia sehat dengan fungsi ginjal yang baik, Gifar kini bisa melakukan rutinitas sehari-hari. Ia masih bekerja di bank plat merah. Masih bisa berjalan cukup jauh. Hanya, Gifar dan pasien CAPD lainnya sudah tidak bisa berenang di kolam renang, apalagi laut.

“Alat yang menempel di perut (kateter/transfer set) dikhawatirkan terkena bakteri atau air masuk ke dalam tubuh. Dan itu sangat berbahaya,” tegas dr Andry Mulya.

RSUD Sumedang merupakan satu satunya rumah sakit yang paling berhasil melaksanakan CAPD. Tidak hanya di Jawa barat, atau Indonesia, CAPD RSUD Sumedang juga menjadi rujukan dokter dari luar negeri.

“Belum lama ini, para dokter dari rumah sakit di Melbourne Australia, berkunjung ke RSUD Sumedang untuk melakukan studi banding,” demikian dr Andry.(Kus/BP)

Leave a Response