Kesehatan

Kaitan Etilen Glikol dengan Kasus Gagal Ginjal Akut

357views

Oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

“Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terus menerima laporan kasus gangguan ginjal akut. Dietilen glikol dan etilen glikol pada obat sirup pun diduga menjadi penyebabnya.”

PADA awal September, otoritas kesehatan di negara Gambia, Afrika Barat, menyelidiki apakah ada hubungan antara kematian anak akibat gagal ginjal akut dan konsumsi sirup parasetamol yang digunakan untuk demam, batuk, pilek, dan nyeri. Dokter pun mulai menyaksikan lonjakan jumlah kasus gagal ginjal akut pada anak-anak di bawah usia 5 tahun pada akhir Juli dan mencurigai adanya hubungan dengan obat-obatan. Lantas, benarkah ada hubungan antara obat-obatan dan kasus ginjal akut? Simak ulasannya berikut ini!

Kasus Gagal Ginjal Misterius di Gambia dan Indonesia

Direktur pelayanan kesehatan Gambia mengatakan, bahwa sejumlah anak mulai sakit dengan masalah ginjal dalam waktu tiga sampai lima hari setelah mengkonsumsi sirup parasetamol yang dijual secara lokal. Pasien yang terjangkit akan mengalami demam, ketidakmampuan untuk buang air kecil, dan muntah, diikuti oleh gagal ginjal. Menurut angka Kementerian Kesehatan Gambia, 28 anak telah meninggal pada awal Agustus, dengan tingkat kematian 90 persen.

Hasil analisis laboratorium WHO dari sampel produk obat dengan sediaan sirup telah dikonfirmasi mengandung dua kontaminan dietilen glikol dan etilen glikol dalam jumlah yang melebihi batas.

Sejak penghujung Agustus 2022, Kementerian Kesehatan dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menerima laporan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal atau acute kidney injury (AKI) yang meningkat tajam pada anak, terutama pada usia di bawah 5 tahun. Sebanyak 206 kasus ganggaun ginjal akut pada anak dilaporkan per 18 Oktober 2022 dengan angka kematian sebanyak 99 anak.

Meskipun belum mendapatkan kesimpulan yang pasti, Kementrian Kesehatan mulai berpikir apakah gangguan tersebut berasal dari sumber yang sama seperti kasus di Gambia.

Apa itu Etilen Glikol dan Dietilen Glikol?

Dietilen glikol dan etilen glikol adalah bahan kimia yang dapat digunakan sebagai pelarut dalam obat sediaan cair. Pelarut lainnya seperti gliserin (juga dikenal sebagai gliserol) dan propilen glikol, merupakan pelarut yang umum digunakan dalam sirup obat batuk untuk mempertahankan konsistensi dan kelarutan pada parasetamol atau asetaminofen yang tidak larut dalam air. Pelarut ini juga bertindak sebagai pengawet, pengental, pemanis, dan agen antimikroba.

Dietilen glikol dan etilen glikol merupakan senyawa beracun, yang tidak boleh digunakan sebagai pelarut obat-obatan cair. Efek toksik yang dapat ditimbulkan dari dua bahan kimia tersebut antara lain nyeri perut, muntah, diare, ketidakmampuan untuk buang air kecil, sakit kepala, penurunan kesadaran, hingga gagal ginjal akut yang dapat menyebabkan kematian.

Dietilen glikol dan etilen glikol seringkali digunakan secara ilegal untuk mengganti pelarut yang tidak beracun seperti gliserin atau propilen glikol. Ini karena harganya yang lebih murah sehingga menyebabkan kontaminasi pada obat sirup.

Gejala Gagal Ginjal Akut Misterius

Gagal ginjal akut adalah penyebab kematian nomor satu dalam kasus keracunan, dan itu dimulai antara 8-24 jam setelah terpapar dosis zat yang mematikan. Jika orang tidak mendapatkan pengobatan, gejalanya gejala berkembang menjadi kegagalan fungsi multi-organ dalam 2-7 hari. Gejala awal yang paling mudah diketahui adalah dari produksi urine. Gagal ginjal akut menyebabkan penurunan produksi urine anak. Nah, berikut panduan jumlah produksi urine yang normal pada anak:

• Bayi baru lahir: 2-3 ml/kgBB/jam.
• Bayi (1 bulan – 1 tahun): 2 ml/kgBB/jam.
• Anak (1 – 12 tahun): 1-2 ml/kgBB/jam.
• Remaja (>12 tahun): 0,5-1 ml/kgBB/jam.

Untuk anak yang masih menggunakan popok, menghitung volume urine dapat dilakukan dengan cara menimbang popok kotor kemudian dikurangi berat popok bersih. Hasilnya merupakan jumlah volume urine sejak popok dipakai hingga dilepas.

Contoh anak usia 6 bulan dengan berat badan 9 kg, popok digunakan dari jam 06.00 – 10.00 (4 jam) ketika ditimbang, berat popok kotor sebesar 87 gram dan berat popok bersih 15 gram, maka volume urine selama 4 jam sebesar 72 ml, atau dalam hal ini tergolong normal.

Apa yang Harus Dilakukan?

Sampai artikel ini ditulis, belum ada rilis resmi dari BPOM obat sirup mana saja yang harus dihindari, meskipun Kementerian Kesehatan RI telah merilis beberapa obat sirup yang memiliki kandungan etilen glikol dan dietilen glikol, namun survei lengkap post market dari BPOM belum ada.

Anjuran dari IDAI dan Kementerian Kesehatan RI saat ini, adalah menghentikan sementara penggunaan obat dengan sediaan sirup untuk anak-anak. Apabila ayah dan ibu mendapati anaknya sedang sakit, hindari membeli obat secara bebas tanpa resep dokter. Segera konsultasikan kesehatan si kecil pada dokter.

Tanyakan pada dokter mengenai langkah yang perlu dilakukan, apabila anak mengalami gejala penurunan produksi urine. Meski sebetulnya jika gejala terjadi, penting untuk segera bawa anak ke rumah sakit atau instalasi gawat darurat untuk mendapatkan penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut.

Meskipun sampai saat ini belum ada kesimpulan yang cukup konklusif tentang penyebab gagal ginjal akut misterius pada anak-anak, ayah dan ibu tidak perlu panik dan harus tetap memperhatikan kesehatan anak. Pastikan selalu jaga kesehatan anak dengan penuhi kebutuhan cairan anak dan mengawasi produksi urine anak.

Jika Anda masih ingin tahu lebih lanjut mengenai gejala gagal ginjal akut pada anak atau langkah untuk mengatasi anak demam dengan cara yang aman, Anda bisa tanyakan pada dokter di Halodoc. Belum punya aplikasinya? Yuk segera download aplikasi Halodoc sekarang juga!**(Sumber: Halodoc.com)

 

Leave a Response