Opini

Inkubator Bisnis LPPM Unisba Mengantarkan UMKM Naik Kelas

536views

*Diki Rahman – Manager Inkubator Bisnis LPPM Unisba

Pandemik tahun 2020 adalah keadaan yang mengerikan, jumlah kematian karena covid-19 diumumkan setiap hari, yang terinfeksi virus diumumkan setiap hari dan yang berhasil melalui virus tersebut diumumkan setiap hari. Isolasi daerah terjadi dimana-mana tidak hanya di Indonesia tapi juga seluruh dunia, bahkan Yunani menunjukan di media bagaimana jenazah dipindahkan menggunakan ekskavator karena tidak berani menyentuh dengan jumlah yang sangat banyak dan semua petugas menggunakan APD dan saat itu tampak dunia sangat suram dan mengerikan dan tidak hanya di Yunani.

Sisi ekonomi banyak negara sangat sulit, mayoritas perusahaan sulit bertahan, pemotongan gaji dan gelombang phk perlahan terjadi dan berlaku dimana-mana dan pemerintah tak dapat berbuat banyak. Saat itu serta merta semua negara di dunia down, bahkan perusahaan sekelas giant di Indonesia “selesai” dan masih banyak lagi perusahaan lain, dan perusahaan start-up banyak down ini adalah efek berantai, akibatnya jumlah pengangguran, kemiskinan bertambah, dan akibatnya angka kemiskinan terus naik di Indonesia, dan hal yang jadi momok saat itu total lulusan SMK pada tahun 2020 sebanyak 1,6 juta jiwa menganggur padahal lulusan SMK adalah harapan untuk mudah diserap sebagai tenaga kerja muda.

Situasi-situasi diatas membuat masyarakat memulai usaha ada dengan keadaan seadanya, mulailah banyak masyarakat memulai berjualan dengan keadaan seadanya, berjuang bertahan hidup berusaha dari apa yang bisa dilakukan dan semua dengan modal seadanya, ilmu seadanya dan belum mengetahui banyak hal apa itu bisnis dan seperti apa pengelolaan keuangan pada sebuah bisnis semua berjalan seadanya tanpa banyak ilmu bisnis yang dimiliki, beberapa ada yang sudah lebih baik dengan mencoba berjualan di platform seperti gofood dan grabfood umumnya adalah penduduk yang tinggal di kota dan di pulau jawa yang sudah lebih beradaptasi dengan teknologi.

Mereka inilah yang disebut UMKM, UMKM dengan kepanjangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah, bahkan bagian masih dibawah mikro yang disebut “ultra mikro” yaitu mereka yang berdagang untuk kehidupan pada hari itu atau hanya berapa hari kedepan. UMKM adalah klasifikasi dari skala usaha yang dimiliki oleh para pejuang kehidupan dengan segala komplikasi masalah yang dimiliki oleh setiap usahawan yang diatur oleh PP No.7 Tahun 2021. Seperti inilah kondisi yang ada di luar bahkan boleh jadi diri kita atau tetangga kita yang mengalami situasi seperti ini.

Pada tema “UMKM Naik Kelas melalui pengawasan kemitraan oleh KPPU” ini saya akan menyampaikan beberapa pandangan. Sebagai penulis, saya adalah manager inkubator bisnis perguruan tinggi bertugas di UNISBA dengan nama inkubator bisnis yaitu Inkubator Bisnis Halal LPPM UNISBA, disini saya akan memaparkan pentingnya perhatian yang khusus pada UMKM dan seperti apa langkah untuk naik kelas pagi para pegiat UMKM.

Apa yang diperlukan oleh UMKM dengan keadaan seperti ini, mereka perlu untuk didekati, didengar, mereka memerlukan ilmu, memerlukan best practices yang tidak hanya menggurui tapi yang dapat menemani sebuah proses yang mengantarkan pada hasil.

Inkubator Bisnis adalah sebuah tempat terbaik bagi para pemula bisnis atau yang lebih akrab dengan sebutan UMKM, Inkubasi Bisnis adalah sebenarnya pendampingan ini yang disampaikan saat pertemuan HARNAS UMKM dengan salah satu agenda yaitu temu nasional pendamping (TNP) III Tahun 2022 dengan tema “Memperkuat Profesi Pendamping Sebagai Agregator Dalam Ekosistem Kewirausahaan Nasional” pada 11 Agustus 2022 di Hotel Grandia, meskipun saat ini banyak dilaksanakan pola seperti training, workshop, modular dan itu bukan pendampingan demikian kesimpulan bersama saat pertemuan hari itu dan pertemuan tersebut ditutup dengan perhelatan di Cihampelas Walk bersama Menteri Koperasi dan UKM Bapak Teten Masduki.

Selanjutnya kita definisikan dahulu apa itu UMKM naik kelas, istilah ini sangat sering terdengar tapi belum ada definisi resmi seperti apa bentuk jelas, konkrit, UMKM naik kelas.

Penulis ingin memberi padangan terlebih dahulu definisi UMKM naik kelas, selanjutnya akan memberikan pandangan tentang pelaksanaan pengawasan. UMKM Naik Kelas adalah pegiat UMKM yang dapat melahirkan produk untuk masuk pasar yang memiliki tingkat kualifikasi produk yang setara dengan produk yang masuk di super market artinya sudah memiliki managemen mulai dari hulu sampai ke hilir yang memiliki SOP tetap dalam pengelolaan produk.

Salah satu hal pengetahuan penting yang perlu dimiliki pegiat UMKM adalah memahami tentang BMC yaitu Business Model Canvas. BMC ditulis oleh oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur dan dibuat bersama oleh 470 praktisi dari 45 negara dengan judul buku Business Model Generation pada tahun 2010 yaitu BMC.

BMC adalah panduan bagi pebisnis dalam merangkai dan membangun bisnis. BMC memiliki 9 fundamental bisnis, yaitu
1. Customer segments
2. Value propositions
3. Channels
4. Customer Relationship
5. Revenue Stream
6. Key activities
7. Key resources
8. Key partners, terakhir
9. Cost Structure

Dengan memahami konsep dengan baik dan praktik dengan baik maka pegiat UMKM telah 50 % dapat dikatakan naik kelas. Selanjutnya penulis ingin menyampaikan untuk naik kelas pegiat UMKM perlu juga memikirkan aspek halal pada produk yang diatur oleh BPJPH ini adalah yang akan membuat kualitatif dan kuantitatif pegiat UMKM naik kelas. Terakhir dari penulis agar pegiat UMKM untuk memiliki aspek legal paling minimal mendaftarkan diri sebagai UMKM di dinas kota dan kabupaten setempat dimana harus membuat NIB terlebih dahulu.

Dengan demikian sangat mudah bagi KPPU untuk dapat melakukan pengawasan dengan base data yang dimiliki yang terhubung dan terintegrasi dengan dinas terkait.
Penulis sudah melakukan proses diatas yang disampaikan kepada tenant. Tenant adalah peserta dari inkubasi bisnis tersebut.

Pengawasan adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan untuk memperhatikan agar sesuatu sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh regulator agar proses kegiatan tersebut sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan. Sementara pengawasan pelaksanaan kemitraan adalah pengawasan terhadap kinerja dalam menjalankan pelaksanaan kemitraan. Hal ini harus dipastikan KPPU mengetahui antara budget dan program dan harus ada pihak penanggung jawab yang mengawasi hingga kegiatan harian.

Di sini penulis ingin menyampaikan aspirasi bahwa UMKM naik kelas adalah UMKM yang perlu mendapatkan pendampingan terprogram antara kegiatan dengan waktu, misal aktivitas harian, pekanan hingga bulanan. Kemudian dilakukan review sesuai dengan target waktu dan rangkaian kegiatan, sehingga akan dapat nilai kemajuan atau progres dari UMKM dan harus ditentukan juga apa kriteria dari UMKM naik kelas.

UMKM naik kelas adalah UMKM yang telah memiliki standar produk yang dapat menembus setidaknya pasar mini market atau dikenal chain market yaitu mini market atau supermarket yang telah memiliki jaringan, baik itu yang memiliki jangkauan beberapa kota saja atau yang telah menjangkau seluruh Indonesia. Mengapa perlu demikian karena tentu telah melalui rangkaian seleksi dan syarat yang banyak sehingga UMKM ingin terus meningkatkan kualitas produksi dan segala aspek legal yang menjadi syarat.

Meski demikian UMKM yang masih berada pada tingkat survival tetap perlu mendapatkan perhatian sama besarnya dengan UMKM yang naik kelas, saya memilih istilah survival adalah UMKM yang benar-benar berjualan untuk mempertahankan hidup harus tetap mendapatkan perhatian dan pendampingan supaya mereka memiliki motivasi dan harapan yang besar untuk terus menumbuh kembangkan baik kualitatif dan kuantitatif usahanya.

Dan semoga apa yang disampaikan pak Joko Widodo tahun depan adalah tahun yang gelap dapat kita bersama bertahan melalui pelatihan dan pendampingan dari inkubator bisnis.

Sekiranya itu yang dapat disampaikan oleh penulis harapan dapat dilaksanakan pertemuan agar dapat terjadi kolaborasi antar institusi agar dapat akselerasi terhadap jumlah UMKM naik kelas.**

Leave a Response