Nasional

Guna Kurangi Impor Kedelai Presiden Jokowi Dorong Peningkatan Produksi Kedelai Nasional

162views

JAKARTA, BANDUNGPOS.ID – Persoalan kedelai yang selama ini impor dari luar negeri ditanggapi secara serius oleh Pesiden Joko Widodo. Senin (19/09) bersama sejumlah menteri presiden memimpin rapar bersama membahas tata kelola dan peningkatan produktivitas kedelai di Intana Merdeka. Presiden berharap pemerintah Indonesia tidak bergantung impor kedelai dari luar negeril.

Presiden Joko Widodo memimpin rapat bersama jajarannya untuk membahas tata kelola dan peningkatan produktivitas kedelai di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 19 September 2022. Dalam rapat tersebut, Presiden Jokowi mendorong segenap jajarannya untuk meningkatkan produksi kedelai nasional sehingga kebutuhan kedelai dalam negeri tidak 100 persen bergantung kepada impor.

“Bapak Presiden ingin agar kedelai itu tidak 100 persen tergantung impor karena dari hampir seluruh kebutuhan yang 2,4 (juta ton) itu produksi nasionalnya kan turun terus,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya kepada awak media selepas rapat.

Presiden meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membeli kedelai dari petani dengan harga yang telah ditentukan. Hal ini dilakukan menurut presiden agar petani tidak dirugikan dengan harga ideal bagi petani.

“Jadi untuk itu, untuk mencapai harga itu nanti ada penugasan dari BUMN agar petani bisa memproduksi. Itu di harga Rp10.000 (per kilogram),” imbuh Airlangga.

Persoalan harga yang kurang menarik bagi petani ini juga yang menjadi salah satu penyebab petani enggan menanam kedelai dalam beberapa waktu terakhir. Menurut Airlangga, petani tidak bisa menanam kedelai jika harganya di bawah Rp10.000 per kg karena akan kalah dengan harga impor dari Amerika Serikat yang hanya Rp7.700 atau bahkan lebih murah.

“Jadi kita di 2018 misalnya kita produksinya di 700 ribu hektare, nah sekarang di 150 ribu hektare. Jadi kalau petani disuruh milih tanam jagung atau kedelai, ya mereka larinya ke jagung semua. Nah sekarang kita kan ingin semua ada mix, tidak hanya jagung saja tetapi kedelainya juga bisa naik,” jelasnya.

Arahan kedua, Presiden mendorong agar petani menggunakan bibit unggul yang telah direkayasa secara genetik atau genetically modified organism (GMO). Dengan menggunakan bibit tersebut, diharapkan produksi kedelai per hektarenya bisa melonjak beberapa kali lipat.

“Dengan menggunakan GMO itu produksi per hektarenya itu bisa naik dari yang sekarang sekitar 1,6-2 ton per hektare, itu bisa menjadi 3,5-4 ton per hektare,” lanjutnya.

Langkah berikutnya, pemerintah menyiapkan anggaran untuk perluasan lahan tanam kedelai dari yang sekarang sekitar 150 ribu hektare menjadi 300 ribu hektare, dan menjadi 600 ribu hektare pada tahun depan. Pemerintah berupaya mengejar target 1 juta hektare produksi dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut presiden untuk perluasan lahan tanam kedelai tersebut pemerintah sudah menganggarkan dana Rp 400 miliar. Selain itu luasan lahannya juga tahun depan akan ditambah dari 300 hektar menjadi 600 hektare.(BPMI Setpres/ask)

Leave a Response