Hiburan

FFJB Gelar Acara Bulanan Apresiasi Film Indie di BCH, Dihadiri Kadisbudpar dan Pegiat Film Indie

366views

METRO BANDUNG, BANDUNGPOS.ID – Film Purnama merupakan kegiatan rutin yang diadakan FFJB (Forum Film Jawa Barat) sejak 2015. Kegiatan pemutaran film ini disebut Film Purnama karena waktu pelaksanaannya bertepatan dengan saat bulan purnama tiap bulannya. Di awal kegiatan Film Purnama diadakan di malam hari sesuai dengan saat purnama datang. Namun karena waktu kegiatan kurang diterima semua kalangan maka sejak tahun 2022 kegiatan diadakan siang hingga sore hari.

Menurut Ketua FFJB Budi Irawan, kegiatan ini digelar untuk memberi wadah bagi para sineas indie  menampilkan karya di hadapan publik. Tujuannya agar kalangan indie tetap berkarya meskipun fasilitas dan biaya produksi minim karena biasanya hasil patungan diantara anggota komunitasnya sebagai modal produksi.

Sementara itu Sekretaris FFJB Irwan Jabonk menyebut, selama pandemi  covid-19 kegiatan Film Purnama terhenti. Saat pandemi mulai surut dengan modal semangat indie FFJB memutuskan untuk melanjutkan kegiatan Film Purnama.

“Trigernya adalah saat FFJB menggelar Bandung Film Week 2022 pada bulan Ramadlan kemarin. Saat bertemu dengan para pengurus FFJB akhirnya disepakati kegiatan Film Purnama dilanjutkan. Memang soal tempat sering jadi kendala karena Bandung Creative Hub (BCH) yang menyediakan tempat untuk Bandung Film Week tidak bisa setiap bulan purnama bisa digunakan sehingga sementara waktu soal tempat belum tetap. Semoga pihak BCH bisa menfasilitasi tetap setiap bulan memutar film di BCH,” jelas Irwan.

Sesuai dengan tagline Film Purnama ‘Kebebasan Menembus Batas’ maka  sessi September FFJB Rabu (14/9), pukul 13.00 – 17.00  di Auditorium Bandung Creative Hub Jalan Laswi nomor 7 Bandung kembali digelar apresiasi film dalam bentuk screning film dan diskusi film. Tercatat film yang lolos kurasi adalah Kidung (Pixelmount With Conteners – Karawang), Sapuratina (Opik Chan Garut), Story of Agus (Garut), Amorfati (Ini PH Kita Garut), Godin (AFMI Production Cimahi), Tugas Akhir (FTV Channel Utama Bandung), dan Dep.til (Fikom Unisba Bandung). Sebelum acara, Ketua Pelaksana Doddi Kiwari membuka dengan kidung doa.

Usai pemutaran film disambung diskusi film dengan tema “Pengkaryaan dalam Perspektif Komunitas”. Diskusi dipandu Askurifai Baksin (Lab Film Fikom Unisba) dengan menampilkan narasumber Kenmada Wijajanto (Kaprodi Film dan Tv Universitas Widyatama) dan Edy Hermansyah (Komunitas Fotografi Amatir Bandung KOFABA).

Ajakan Kadisbudpar

Hadir pada perhelatan tersebut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Arief Syaifudin. Dalam sambutannya Arief menjelaskan bahwa membuat film di Bandung sebetulnya tidak susah karena di Bandung banyak perusahaan besar. Hanya masalahnya yang mau dijual itu apa karena perusahaan yang misinya berdagang ingin dapat keuntungan juga. Untuk itu melalui dana CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan mempunyai kewajiban membantu kegiatan komunitas dalam hal produksi kreatif film.

“Untuk itu yuk kita kolaborasi mengembangkan perfilman di Bandung. Apalagi ada niatan FFJB ingin menjadikan Bandung sebagai Kota Film. Beberapa waktu lalu kami kolaborasi dengan KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan). Juga dengan para pelukis kita menfasilitasi kegiatan produktif mereka,”ungkap Arief.

Dari kanan ke kiri (Irwan Jabonk, Kenmada Widjajanto, Edi Herwansyah, Doddi Kiwari, dan Askurifai Baksin)

Dalam pemaparannya Kenmada menyoroti perlunya sertifikasi profesi bagi pekerja industri kreatif film.

“Beberapa waktu lalu kami para pengelola prodi film dan tv mengadakan konggres seputar studi bidang film dan tv dan lulusannya. Kami menyepakati soal peran BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) melalui LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) menggelar kegiatan uji kompetensi di kalangan mahasiswa sesuai dengan SKKNI agar para lulusannya kompeten. Namun terkadang hal ini terkendala dengan biaya mengikuti ujikom yang lumayan mahal,” jelas Kenmada.

Kenmada melihat perkembangan industri kreatif film dari perspektif akademik sehingga sertifikasi profesi penting bagi mahasisawa untuk terjun ke dunia industri sebagai kalangan profesional.

Sementara di pihak lain Edi Hermansyah menilai kekaryaan kalangan komunitas atau indie berpatok para kesenangan tanpa beban.

“Kami di komunitas merasa seperti orang kaya karena melakukan kegiatan amatir sebebas kami. Kami melakukan berbagai kegiatan tidak karena bayaran tapi hobi dan media untuk berekpresi. Bagi kami nggak perlu ada sertifikat kompetensi karena kami tidak bekerja untuk orang lain sehingga sejak beberapa tahun lalu kami tetap konsisten di jalur indie,” sambung Edi.

Para peserta kegiatan pun antusias mengajukan pertanyaan kepada narasumber karena menarik secara konten. Kenmada yang dari dunia akademis bersandar dari kesepakatan para pengelola prodi film dan tv. Sementara Edi tetap dalam posisi sebagai kalangan indie yang tidak mau ada regulasi yang berbelit. Namun Edi menyarankan untuk masing-masing orang berada pada pilihannya masing-masing, yakni mau jalur indie atau masuk jalur profesional mengikuti kebijakan BNSP dan LSP diserahkan kepada masing-masing orang.

Di akhir acara diadakan sessi foto bersama seluruh peserta di perhelatan yang dihadiri cukup banyak peserta dari kampus, sekolah, komunitas, perkumpulan, LSM, dan pegiat film indie tersebut. (ask/bp)

Sessi foto bersama peserta Film Purnama sessi September di auditorium BCH (14/9).(foto: ffjb)

Leave a Response