Pendidikan

Disiplinkan Anak Sejak Usia Dini

378views
SIGEULIS ( Siswa & Guru Menulis )

Oleh: Anggi Cayanati, S.Pd.,M.Pd 

KEDISIPLINAN merupakan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,  kesetiaan, keteraturan atau ketertiban. Disiplin membentuk kepribadian seseorang, karena ia yang disiplin mampu menjadi individu yang lebih menghargai diri sendiri.

Masa PAUD: usia emas ( golden age ): masa efektif untuk menanamkan nilai moral. Hingga disiplin memberikan pengaruh baik bagi kepribadian anak dalam tumbuh kembangnya. Misalnya dengan pemberian contoh, dialog, dan nasihat.

Kedisiplinan pada usia dini, menumbuhkan  kesadaran dalam diri  anak, bukan lagi merupakan aturan dari luar yang sifatnya memaksa dan membatasi. Kedisplinan pada anak secara sederhana adalah memberi pengertian mana yang baik/buruk. Perlu ditanamkan bahwa berbuat salah ada konsekuensinya, sehingga anak belajar menghadapi sebab akibat. Disiplin mesti dari pola asuh orang tua terhadap anak, sekolah atau institusi dan lingkungan.

Keluarga sebagai dasar pembentukan. Orang  tua  berperan penting  dalam  membimbing  perilaku. Sikap dan  kebiasaan  orang  tua  dinilai, ditiru oleh anak secara langsung atau tidak diresapi menjadi  kebiasaan.

Pada masa PAUD, terkadang orang tua memberi makan atau menentukan jadwal mandi anak dengan tidak memiliki keteraturan waktu, hal ini akan memacu anak menjadi malas makan, malas mandi dan akhirnya anak tidak menghargai waktu dan akan berpikir bahwa makan dan mandi dapat dilakukan kapan saja.

Pola asuh orang tua dan sekolah memiliki peran dalam membentuk kedisiplinan anak. Pada golden age pastinya sekolah tingkat PAUD lah yang berperan dalam membimbing anak menciptakan kedisiplinan,sehingga bagaimana cara sekolah menerapkan kedisiplinan maka siswa akan mengikutinya.

Disiplin sekolah, usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang serta taat pada tata tertib. Tepat waktu, salah satu wujud ketaatan yang harus dipatuhi. Jika anak terlambat datang, maka muncul rasa malu karena teman yang lain sudah siap belajar, hingga diharapkan dia belajar menerima konsekuensi. Efek sosial tersebut merupakan hukuman bagi anak.

Lingkungan yang lebih luas lagi adalah lingkungan sekitar. Lingkungan berpengaruh besar dalam penentuan kepribadian anak,sekira 70% dan 30% dari genetik orang tua. Anak melihat banyak aktivitas sosial, jika ada aktivitas negatif tertangkap anak, maka ia cenderung akan menirunya. Masa anak cenderung melihat orang disekitar sebagai role model.  Hal sederhana, yang harus dilatih pada anak ialah membuang sampah pada tempatnya. Akhirnya akan menjadi sebuah kebiasaan, hingga dewasa kelak.

Disiplin pada anak adalah kewajiban. Bila tidak diajarkan, anak akan tumbuh dewasa dengan sangat merepotkan orang tua. Sepuluh manfaat mengajarkan disiplin pada anak usia dini, menurut Seto Mulyadi,menumbuhkan kepekaan: Anak tumbuh menjadi pribadi yang peka/berperasaan halus dan percaya pada orang lain. Sikap-sikap seperti ini akan memudahkan dirinya mengungkapkan perasaannya, termasuk pada orang tuanya. Alhasil, anak akan mudah berempati. Menumbuhkan kepedulian yaitu Anak peduli pada kepentingan orang lain. Disiplin membuat anak memiliki integritas, selain dapat memikul tanggung jawab, mampu memecahkan masalah dengan baik, mudah mempelajari sesuatu.

Dalam mengajarkan keteraturan anak jadi memiliki pola hidup yang teratur dan mampu mengelola waktunya dengan baik. Menumbuhkan ketenangan,suatu penelitian menunjukkan, bayi yang tenang/jarang menangis ternyata lebih mampu memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan baik. Di tahap selanjutnya, ia akan lebih cepat berinteraksi.

Menumbuhkan sikap percaya diri, sikap ini tumbuh saat anak diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu yang mampu dikerjakan sendiri. Menumbuhkan kemandirian akan kebutuhan dirinya sendiri. Anak akan dapat mengeksplorasi lingkungannya dengan baik. Diusia tiga tahun pertama, pertumbuhan otak anak sangat pesat. Ia menjadi peniru perilaku yang piawai. Jika ia mampu menyerap disiplin yang dicontohkan orang tuanya, maka disiplin sejak dini menumbuhkan sikap positif. Membantu anak yang “sulit”, misal anak yang hiperaktif, perkembangan terlambat, atau temper tantrum. Dengan menerapkan disiplin, maka anak dengan kebutuhan khusus tersebut akan mampu hidup lebih baik. Menumbuhkan keakraban serta kepatuhan, menuruti aturan yang diterapkan orang tua dan public.**

*Anggi Cayanati, S.Pd.,M.Pd  adalah guru SMAN 2 Telukjambe Timur, Karawang

 

Leave a Response