Daerah

Balada Rohimah dan Rumah Reyotnya  

202views
Wabup Garut
Wabup Garut dr, Hilmi saat Berkunjung ke rumah reot, Rohimah, foto : Ist

GARUT, BANDUNGPOS.ID:  – Kondisi rumah Rohimah Asisten rumah tangga (ART) yang menjadi korban penyiksaan majikannya, Rohimah, kini kembali ke kampung halamannya, Kampung Nangor, Desa Pangeureunan, Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, Jawa Barat    sangat memprihatinkan. Rohimah selama ini bertempat tinggal di gubuk reyot di belakang rumah orang tuanya. Kondisi rumah orang tuanya lebih baik dibanding rumah Rohimah karena rumah orang tua masuk Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Rumah tersebut terbuat dari bilik bambu beratapkan genting. Terdapat sejumlah bagian rumah yang menganga. Rumah yang ditinggali Rohimah berbentuk rumah panggung. Sejumlah lubang tampak ditambal menggunakan karung, tapi sebagian yang lain dibiarkan begitu saja. Kakak Rohimah, Abdul Majid (32), menjelaskan, sejak Rohimah merantau ke Bandung, dialah yang menempati rumah tersebut. Sejumlah pejabat daerah yang berkunjung ke rumah Rohimah pun tertegun ketika melihat kondisinya. Wabup Garut Helmi Budiman, yang sempat bertamu ke sana belum lama ini, menyebut rumah Rohimah kurang layak untuk ditempati.
“Kami sedang mengupayakan, mudah-mudahan bantuan pembangunan rumah dari Kementerian Sosial RI bisa terealisasi,” ucap Helmi kepada wartawan di sela-sela kunjungannya ke rumah Rohimah.

Kisah Rohimah 29 tahun, seorang asisten rumah tanggal (ART) disiksa majikannya sepasang suami istri di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Selama hampir 3 bulan, ia disiksa secara fisik oleh Yulio Kristian (29) dan istrinya Loura Francilia (28) alias Ola. Rohimah selama ini bekerja di rumah Yulio dan Ola di Perumahan Bukit Permata, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Akibat penyiksaan yang dilakukan majikannya, Rohimah mengalami trauma dan terluka di seluruh tubuhnya.

ART korban penyiksaan sempat  terbaring di RS, kepala dan mata luka serius,  kisah Rohimah berawal saat ia bekerja sejak lima bulan yang lalu. Ia bertugas mengurus pekerjaan rumah tangga dan mengasih anak dari pasangan suami istri tersebut. Memasuki bulan ketiga bekerja, Rohimah mulai menerima kekerasan fisik dari dua majikannya karena masalah sepele yang dia lakukan. Sebut saja tidak mencuci tangan ketika akan menggendong bayi, setrika baju tidak rapi, lupa matikan saklar air dan hal-hal kecil lainnya. Kesalahan Rohimah membuat Yulio dan Ola gelap mata dan mulai menyiksa korban. Korban kerap dipukul dengan tangan kosong ke arah wajah, lengan, hingga punggung. Tak hanya dipukul dengan tangan kosong, Rohimah juga dipukul dengan alat seperti panci, ember, teflon, box penyimpanan bayi, centong masak, sapu dengan gagang yang potong, dan sebuah peniti. Rohimah beberapa kali dibiarkan kehujanan di luar rumah saat malam hari. Penyiksaan tersebut membuat korban kerap menangis di malam hari. Bahkan beberapa tetangga mengaku kerap mendengar suara rintihan Rohimah. Menurut Kepala Desa Cilame Aas Mohamad Asor, kecurigaan warga berawal dari tangisan yang selalu terdengar tiap malam dari rumah majikan Rohimah. Ternyata, yang menangis adalah Rohimah. “Sudah sekitar dua atau tiga bulanan disiksanya. Hampir setiap malam, korban terdengar menangis,” kata Aas, saat dihubungi. Selain menangis, Rohimah terlihat beberapa kali berada di luar rumah saat hujan pada malam hari. Selama tiga bulan, ia juga tak leluasa keluar rumah tanpa izin dan sepengetahuan kedua pelaku. Rohimah juga tak bisa menghubungi keluarganya karena ponsel miliknya disita. Sementara itu Kuasa Hukum Rohimah, Asep Muhidin mengatakan Rohimah juga diperlakukan tak adil terkait gaji. Awalnya ia dijanjikan gaji Rp 2 juta per bulan. Namun kenyataannya, gaji yang diterima Rohimah kurang dari yang dijanjikan. Mirisnya, gajinya akan dipotong jika perempuan 29 tahun itu melakukan kesalahan. “Jadi kalau ada kesalahan sedikit gaji dipotong Rp 100 ribu. Contohnya kalau telat nyabut pompa air, telat masak, itu didenda .

Menurut Asep, Rohimah adalah seorang ibu tunggal dan ia terpaksa bekerja sebagai ART untuk menghidupi anaknya yang masih kecil. “Apalagi setelah dia pisah dengan suaminya, perlu biaya untuk menghidupi anaknya yang berusia 8 tahun,” tandas Asep. Rohimah sendiri berhasil diselamatkan setelah warga dibantu TNI dan polisi membuka paksa rumah Yulio dan Ola. Camat Ngamprah Agnes Virganty mengatakan, saat dievakuasi, terlihat wajah Rohimah lebam dan membiru. Selain itu ditemukan juga bekas luka di tubuh perempuan asal Garut itu. “Betul ada luka-luka. Lebam di kedua matanya, dan ada luka di bagian punggung. Lebih lengkapnya nanti menunggu hasil visum,” kata dia.**(rm/bp)

Leave a Response