Kesehatan Wanita

Bahaya di Balik Keputihan Menggumpal

280views

Oleh: dr. Arina Heidyana

UMUMNYA keputihan adalah hal yang normal, tapi di beberapa kasus, kondisi ini bisa jadi tanda gangguan kesehatan tertentu. Salah satu gejala yang sering muncul adalah keputihan menggumpal. Kenapa keputihan menggumpal perlu diwaspadai? Karena, keputihan menggumpal bisa juga menjadi tanda infeksi pada vagina. Oleh karena itu, kenali dan ketahui lebih jauh mengenai penyebab keputihan menggumpal berikut ini.

Penyebab Keputihan Menggumpal

Ada beberapa hal yang menyebabkan keputihan menggumpal, antara lain: 

  1. Akhir dari Haid

Keputihan kental dan menggumpal bisa terjadi setelah haid berakhir. Keputihan ini berwarna bening atau putih, tanpa disertai rasa gatal dan tidak berbau. Kondisi ini wajar terjadi dan tidak membutuhkan pengobatan. Penyebab keputihan kental seperti ingus ini adalah perubahan hormon. Hormon estrogen dan progesteron berada dalam kadar yang rendah pada akhir haid. Efeknya, produksi cairan vagina sangat kental dan cenderung menggumpal.

Pada beberapa kasus, akhir haid juga bisa menjadi waktu ovulasi (masa subur) bagi wanita. Di rentang waktu ini, wanita bisa saja mengeluarkan keputihan berwarna putih susu dan menggumpal. Keputihan jenis itu tergolong normal apabila tidak disertai bau tidak sedap atau keluhan gatal-gatal. 

  1. Vaginosis Bakteri

Keputihan menggumpal bisa menjadi tanda infeksi bakteri Gardnerella vaginalis. Secara normal, bakteri ini memang terdapat di vagina. Bila jumlah bakteri itu terlalu banyak di vagina, infeksi yang menyebabkan keputihan menggumpal seperti tahu hancur bisa saja terjadi. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Gardnerella vaginalis disebut penyakit vaginosis bakteri.

Selain keputihan, gejala utama penyakit tersebut adalah bau amis menyengat di vagina. Bau amis akan semakin menyengat setelah berhubungan intim. Keputihan akibat vaginosis bakteri harus diobati dengan antibiotik yang diresepkan dokter. 

  1. Kandidiasis Vagina

Kandidiasis vagina disebabkan oleh infeksi jamur Candida sp. Penyakit ini ditandai dengan keputihan menggumpal seperti tepung basah, disertai rasa gatal di daerah vagina. Wanita lanjut usia, penderita diabetes, atau obesitas lebih rentan mengalami keputihan karena infeksi jamur Candida sp. Pemberian antijamur dapat mengatasi keluhan tersebut. Umumnya, obat antijamur diberikan dalam bentuk tablet yang dimasukkan ke vagina.

  1. Bahaya Keputihan Menggumpal

Keputihan berwarna putih menggumpal tidak boleh dibiarkan dan tidak diobati, karena dapat menimbulkan komplikasi serius. Keluhan ini juga tidak diobati sendiri, karena berisiko memperberat infeksi. Sayangnya, karena vagina merupakan area sensitif, beberapa wanita kadang ragu atau menunda melakukan pemeriksaan ke dokter tentang keluhan keputihan kental. Padahal hal ini bisa memperparah keadaan infeksi.

Keputihan yang disebabkan oleh bakteri dan jamur bisa bertambah parah. Akibatnya, gejala yang dirasakan pun akan bertambah, seperti bertambah gatal, muncul nyeri, atau bahkan ada rasa terbakar pada vagina. Keputihan akibat vaginosis bakteri juga bisa menyebabkan peradangan pada organ di dalam panggul, karena bakteri dari vagina masuk ke rahim dan organ kandungan. Penyakit radang panggul dapat menyebabkan organ kandungan meradang dan mengalami perlengketan. Hal ini akan membuat penderitanya sulit memiliki keturunan di masa depan. Jika keputihan tersebut terjadi pada ibu hamil, maka dapat menyebabkan komplikasi kehamilan, seperti ketuban pecah dini, persalinan prematur, dan kehamilan ektopik.

Bagaimana Cara Menghilangkan Keputihan Menggumpal?

Dalam mengatasi keputihan menggumpal, tentu saja ini akan bergantung pada penyebab keputihan tersebut. Jika penyebabnya jamur, maka dokter akan meresepkan obat antijamur untuk mengatasinya. Jika penyebabnya bakteri, tentu akan diresepkan obat antibakteri. Selain pengobatan dokter, kamu juga perlu merawat vagina untuk membantu proses penyembuhan dari keputihan menggumpal yang berbahaya. Berikut hal-hal yang perlu dilakukan:

  • Ganti celana dalam sesegera mungkin bila sudah terasa basah.
  • Hindari vaginal douchingatau membersihkan bagian dalam vagina dengan air dan tambahan bahan kimia tertentu.
  • Bersihkan vagina saat mandi menggunakan air mengalir, dengan arah dari depan ke belakang. Gunakan sabun yang lembut dengan pH netral dan tanpa pewangi.
  • Hindari menggunakan cairan khusus pembersih daerah kewanitaan secara rutin.
  • Gunakan celana dalam berbahan katun yang lembut dan menyerap keringat dengan baik.
  • Bila menggunakan pantyliner, pilihlah yang benar-benar menyerap air dan tidak berbau. Ganti pantylinersetiap 2-3 jam sekali.
  • Bila sedang haid, pastikan untuk mengganti pembalut secara rutin.
  • Hindari penggunaan celana yang ketat.

Tidak semua keputihan menggumpal berbahaya. Jika terjadi setelah haid, maka kemungkinan itu hal yang normal. Tapi, jika keputihan dibarengi gejala gatal dan berbau amis, maka itu tidak normal.*(Sumber KlikDokter.com)

 

Leave a Response