Pendidikan

Anak dan Remaja Gunakan Gawai Otodidak      

261views

Oleh: Desi Marliana,.ST.S.Pd

Jutaan gadget (gawai)  menyebar di generasi milenial Indnesia. Sayangnya anak dan  remaja Indonesia pengguna gawai  tidak pernah mempelajari perangkat gawai secara  serius melalui ahlinya, apalagi  akademik,  remaja Indonesia mengenal gawai lebih banyak secara otodidak.Mereka rata-rata hanya mengandalkan panduan buku HP yang menyertai boxs ketika HP dibeli, sehingga tidak maksimal atau tahu sekadar informasi dari teman-temannya yang lain.  Beragam gadget lazim kini digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Anak, terutama yang sedang tumbuh, pun bisa terimbas secara negatif perangkat IT yang satu ini.

Nah ada, cara-cara  bisa dicoba dilakukan agar anak terhindar dari kecanduan gadget. Meningkatnya kecenderungan penggunaan gadget di zaman  sekarang sudah memunculkan kerisauan tersendiri mengenai dampak negatif dari penggunaannya yang berlebihan. Di Bandung 3-4 remaja  setiap hari berkonsultasi psikologi karena gangguan jiwa (bukan gila) karena demam game on line.

Apalagi besar pula potensi itu terjadi pada anak-anak. Sehubungan itu, salah satu tips untuk meminimalisir potensi anak kecanduan gadget dirangkum oleh Bright Side. Kesemuanya berisikan prinsip-prinsip umum mengenai interaksi sehat dengan perangkat digital. Sekarang ini anak balita  sudah bermain gadget,  sehingga mata  seorang anak dapat terancam minus hingga 9.1. Tentukan waktu maksimal penggunaan gadget,  ketika ber interaksi anak dengan perangkat digital, termasuk aktivitas nonton TV, disebut bergantung dengan usianya.

Rekomendasi dari American Academy of Pediatrics, bahwa usia anak  hingga 18 bulan,  sama sekali jangan berhubungan dengan layar gadget, anak harus dijauhkan dari gadget. Bekali anak dan remaja dengan informasi mengenai risiko dan bahaya internet. Anak-anak juga perlu dibekali mengenai risiko dan bahaya yang mengancam di internet, apalagi saat nanti sudah tumbuh sehingga tak lagi membutuhkan pengawasan orang tua saat memakai gadet. Sebelum itu, orang tua disarankan mulai memberikan penjelasan mengenai cara mengatasi cyberbullying, bahayanya membuka akses ke informasi personal, konten-konten negatif, dan hal-hal yang diunduh.

Anak-anak perlu dibekali informasi mengenai keberadaan jejak digital sehingga tak boleh sembarangan beraktvitas di dunia maya. Sebaliknya, anak juga perlu tahu bahwa segala sesuatu yang ditemukan di internet pun harus disikapi dengan hati-hati dan bijak, terkait maraknya hoax dan semacamnya. Terakhir, jangan pernah bosan tekankan ke anak bahwa ia bisa curhat apa saja ke dirimu selaku orang tua, secara khusus terkait dengan hal-hal di internet dan dunia digital.

Bekali informasi mengenai risiko dan bahaya internet. Anak-anak juga perlu dibekali mengenai risiko dan bahaya yang mengancam di internet, apalagi saat nanti sudah tumbuh sehingga tidak lagi membutuhkan pengawasan orang tua saat memakai gadet. Sebelum itu, orang tua disarankan mulai memberikan penjelasan mengenai cara mengatasi cyberbullying, bahayanya membuka akses ke informasi personal, konten-konten negatif, dan hal-hal yang diunduh.

Anak-anak perlu dibekali informasi mengenai keberadaan jejak digital sehingga tak boleh sembarangan beraktvitas di dunia maya. Sebaliknya, anak juga perlu tahu bahwa segala sesuatu yang ditemukan di internet pun harus disikapi dengan hati-hati dan bijak, terkait maraknya hoax dan semacamnya. Terakhir, jangan pernah bosan tekankan ke anak bahwa ia bisa curhat apa saja ke dirimu selaku orang tua, secara khusus terkait dengan hal-hal di internet dan dunia digital.**

Penulis Guru SDN-37 Sabang, Kota Bandung.

Leave a Response