Pendidikan

 AKM  Salah Satu Komponen dalam Asesmen Nasional                                                        

618views
SIGEULIS (Siswa & Guru Menulis)

Oleh Windy Andriyanti, M.Pd.

Salah satu kebijakan Pendidikan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayan (Mendikbud) Nadiem Makariem diantaranya adalah penghapusan Ujian Nasional.  Ujian Nasional ini akan digantikan oleh Asesmen Nasional. Asesmen Nasional merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar yaitu literasi, numerasi, dan karakter, serta kualitas proses belajar-mengajar juga iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. Asesmen Nasional merupakan upaya untuk memotret secara komprehensif mutu proses dan hasil belajar satuan pendidikan dasar dan menengah di seluruh Indonesia. Informasi yang diperoleh dari asesmen nasional diharapkan digunakan untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran di satuan pendidikan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan mutu hasil belajar peserta didik. Salah satu komponen hasil belajar peserta didik yang diukur pada asesmen nasional adalah literasi membaca serta literasi matematika (numerasi). Asesmen ini disebut sebagai AKM  karena mengukur kompetensi mendasar atau minimum yang diperlukan individu untuk dapat hidup secara produktif di masyarakat. Berbeda dengan asesmen berbasis mata pelajaran yang memotret hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran tertentu, AKM memotret kompetensi mendasar yang diperlukan untuk sukses pada berbagai mata pelajaran. Konten yang diukur pada literasi membaca dan numerasi adalah konten yang bersifat esensial serta berkelanjutan lintas kelas maupun jenjang. Tidak semua konten pada kurikulum diujikan, sehingga sifatnya minimum.

AKM  merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua peserta didik untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM, yaitu literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Baik pada literasi membaca maupun numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep dan pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi. AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh peserta didik menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya. AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten. Literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia serta untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat. Numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia.

Bentuk soal yang dirancang dalam AKM terdiri dari soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat dan uraian. Soal pilihan ganda adalah soal yang memungkinkan peserta didik hanya memilih satu jawaban benar dalam satu soal. Soal pilihan ganda kompleks adalah soal yang memungkinkan peserta didik untuk memilih lebih dari satu jawaban benar dalam satu soal. Soal menjodohkan adalah soal yang memungkinkan peserta didik untuk menarik garis atau menuliskan abjad dari satu titik ke titik lainnya yang merupakan pasangan pertanyaan dengan jawabannya. Soal isian singkat adalah soal yang memungkinkan peserta didik untuk menjawab soal yang berupa bilangan, kata untuk menyebutkan nama benda, tempat atau jawaban pasti lainnya. Soal uraian adalah soal yang memungkinkan peserta didik untuk menjawab soal yang berupa kalimat-kalimat untuk menjelaskan jawabannya.

AKM dirancang untuk menghasilkan informasi yang memicu perbaikan kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hasil belajar dapat diperoleh dengan baik jika ketiga komponen pembelajaran terpenuhi dengan baik.  Terdapat tiga komponen penting dalam pembelajaran, yaitu kurikulum (apa yang diharapkan akan dicapai), proses pembelajaran (bagaimana mencapai tujuan kurikulum) dan asesmen (apa yang sudah dicapai). Asesmen dilakukan untuk mendapatkan informasi mengetahui capaian peserta didik terhadap kompetensi yang diharapkan.

Untuk memastikan AKM mengukur kompetensi yang diperlukan dalam kehidupan, juga sesuai dengan pengertian Literasi Membaca dan Numerasi, soal AKM diharapkan tidak hanya mengukur topik atau konten tertentu akan tetapi harus mengukur berbagai konten, berbagai konteks dan pada beberapa tingkat proses kognitif. Konten pada Literasi Membaca menunjukkan jenis teks yang digunakan, dalam hal ini dibedakan dalam dua kelompok yaitu teks informasi dan teks fiksi. Pada Numerasi konten dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Data dan Ketidakpastian, serta Aljabar. Tingkat kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Proses kognitif pada Literasi Membaca dan Numerasi dibedakan menjadi tiga level. Pada Literasi Membaca, level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. Pada Numerasi, ketiga level tersebut adalah pemahaman, penerapan, dan penalaran. Konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.

Survei Karakter merupakan instrumen yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter peserta didik. Survei Karakter mengukur hasil belajar emosional yang mengacu pada Profil Pelajar Pancasila dimana pelajar Indonesia memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Profil Pelajar Pancasila, diantaranya; beriman bertakwa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, bernalar kritis, mandiri, dan kreatif.

Survei Lingkungan Belajar merupakan instrumen yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah. Survei Lingkungan Belajar menggali informasi mengenai kualitas proses pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran, namun pertanyaan akan disesuaikan dengan perspektif respondennya (guru dan peserta didik).

Pada Tingkat Sekolah Dasar peserta Assesmen Nasional  terdiri dari; Kepala Sekolah, Guru (semua guru baik status kepegawaian tetap maupun pegawai lepas/ honorer) dan Peserta didik kelas V maksimal 30 peserta didik, yang akan dilaksanakan mulai bulan Agustus 2021. Peserta didik akan dipilih secara acak oleh Kemdikbud dengan mempertimbangkan faktor sosial ekonomi. Satuan pendidikan tidak diperkenankan mengganti sampel peserta didik karena dapat memengaruhi hasil dan tindak lanjut perbaikan pembelajaran. Pelaksanaan Asesmen Nasional untuk peserta didik akan dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama untuk Asesmen Literasi Membaca dan Survei Karakter, sedangkan hari kedua untuk Asesmen Numerasi dan Survei Lingkungan Belajar.  Pelaksanaan Survei Lingkungan Belajar untuk kepala sekolah dan guru lebih fleksibel dan diberikan alokasi waktu melengkapi semua pertanyaan dalam kurun waktu dua minggu. Pengerjaan angket oleh kepala sekolah maupun guru dilakukan secara daring tanpa pengawasan. Peserta didik kelas V akan mengerjakan 30 soal untuk masing-masing literasi membaca dan numerasi. AKM dilaksanakan secara adaptif, sehingga setiap peserta didik akan menempuh soal yang sesuai dengan kemampuan peserta didik itu sendiri.

Hasil AKM melaporkan persentase peserta didik dalam setiap level kompetensi.  Hasil AKM dilaporkan dalam empat kelompok yang menggambarkan tingkat kompetensi yang berbeda. Urutan tingkat kompetensi dari yang paling kurang adalah: 1) Perlu Intervensi Khusus, 2) Dasar, 3) Cakap, 4) Mahir.

            Tingkat Kompetensi Literasi Membaca, Perlu Intervensi Khusus; Peserta didik belum mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks ataupun membuat interpretasi sederhana. Dasar : Peserta didik mampu menemukan dan mengambil informasi eksplisit yang ada dalam teks serta membuat interpretasi sederhana. Cakap :Peserta didik mampu membuat interpretasi dari informasi implisit yang ada dalam teks,  mampu membuat simpulan dari hasil integrasi beberapa informasi dalam suatu teks. Mahir :Peserta didik mampu mengintegrasikan beberapa informasi lintas teks, mengevaluasi isi, kualitas, cara penulisan suatu teks, dan bersikap reflektif terhadap isi teks.

Tingkat Kompetensi NumerasiPerlu Intervensi Khusus: Peserta didik hanya memiliki pengetahuan matematika yang terbatas. Peserta didik menunjukkan penguasaan konsep yang parsial dan keterampilan komputasi yang terbatas. Dasar : Peserta didik memiliki keterampilan dasar matematika, komputasi dasar dalam bentuk persamaan langsung, konsep dasar terkait geometri dan statistika, serta menyelesaikan masalah matematika sederhana yang rutin. Cakap: Peserta didik mampu mengaplikasikan pengetahuan matematika yang dimiliki dalam konteks yang lebih beragam. Mahir : Peserta didik mampu bernalar untuk menyelesaikan masalah kompleks serta nonrutin berdasarkan konsep matematika yang dimilikinya.

Diharapkan semua peserta didik mencapai level kompetensi cakap atau mahir. AKM memotret kompetensi kecakapan hidup yang tidak dapat di-drilling atau diajarkan melalui bimbel. Oleh karena itu, fokus penguatan guru adalah saat menindaklajuti hasil AKM baik memaknai, memanfaatkan sebagai umpan balik proses pembelajaran serta penguatan kapasitas guru dalam melakukan pembelajaran serta merancang asesmen yang berkualitas.

Pelaporan hasil AKM dirancang untuk memberikan informasi mengenai tingkat kompetensi peserta didik. Tingkat kompetensi tersebut dapat dimanfaatkan guru berbagai mata pelajaran untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat capaian peserta didik. Dengan demikian Teaching at the right level dapat diterapkan. Pembelajaran yang dirancang dengan memerhatikan tingkat capaian peserta didik akan memudahkan peserta didik menguasai konten atau kompetensi yang diharapkan pada suatu mata pelajaran.

Sekolah diharapkan mampu merefleksi hasil AKM dalam pembelajaran sehingga guru-guru menerapkan teaching at the right level serta fokus membangun kompetensi serta karakter peserta didik yang sesuai dengan profil pelajar pancasila. Laporan sekolah terkait iklim belajar dan iklim satuan pendidikan diharapkan ditindaklanjuti manajemen sekolah untuk menyusun dan melaksanakan program-program sekolah yang mendorong terciptanya iklim belajar yang positif dan kondusif agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai dan Indonesia semakin maju dan unggul.**

*Penulis  Guru SDN 247 Sukapura, Kota Bandung

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Response